Sabtu, 30 Januari 2016

Tesis



KOMPARASI PROYEK KONSTRUKSI KONTRAKTUAL DENGAN
PROYEK KONSTRUKSI BERBASIS PEMBERDAYAAN
MASYARAKAT

UMMI CHASANAH
NIM. L4A009034

MAGISTER TEKNIK SIPIL
KONSENTRASI MANAJEMEN KONSTRUKSI
UNIVERSITAS DIPNEGORO
SEMARANG
2013


ABSTRAK

Pemilihan pelaksanaan proyek konstruksi dengan cara kontraktual maupun pemberdayaan masyarakat diharapkan mempertimbangkan berbagai kriteria, sub kriteria dan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. Sedangkan kriteria yang dipertimbangkan dalam pelaksanaan proyek konstruksi antara lain adalah waktu, biaya, mutu, partisipasi masyarakat, dan administrasi. Permasalahan penelitian ini adalah pemilihan pelaksanaan proyek konstruksi yang tepat dengan harapan tidak menimbulkan
permasalahan di kemudian hari.
Maksud penelitian ini adalah untuk mengevaluasi proyek konstruksi kontraktual dan proyek konstruksi berbasis pemberdayaan masyarakat. Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah untuk 1) untuk menentukan faktor – faktor penting dalam memilih pelaksanaan proyek konstruksi, 2) menentukan bobot kriteria dan sub kriteria diantara sejumlah alternatif dengan  metode Analytical Hierarchy Process (AHP), 3) memilih pelaksanaan proyek konstruksi dengan cara kontraktual atau cara pemberdayaan masyarakat dengan metode AHP. 
Data primer yang digunakan diambil dengan metode wawancara dan kuisioner yang kemudian diolah dengan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Analisis dengan menggunakan metode AHP dilakukan dengan perhitungan eigen vector value dan uji konsistensi sehingga diketahui rasio konsistensi (CR) dengan ketentuan nilai CR lebih kecil dari 0,1 atau 10%. Analisis dengan metode AHP dilakukan untuk seluruh responden dari tiap kriteria, sub kriteria dan alternatif yang menjadi pilihan pelaksanaan proyek konstruksi. Dari hasil analisis yang diperoleh kemudian dilakukan validasi hasil analisis AHP dengan metode wawancara dari perwakilan responden.
Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan adanya berbagai kriteria yang dipertimbangkan antara lain adalah waktu, biaya, mutu, partisipasi masyarakat, dan adminstrasi. Dengan beberapa sub kriteria yang telah disajikan diantara kriteria tersebut serta dengan pilihan alternatif yang ada antara kontraktual dan pemberdayaan masyarakat.
Dari hasil analisis kriteria yang ada, maka diketahui bobot kriteria yang menjadi pertimbangan pemilihan pelaksanaan konstruksi. Hasil dari urutan bobot kriteria adalah sebagai berikut kriteria biaya dengan bobot 0,262 kemudian kriteria mutu dengan bobot 0,253, selanjutnya kriteria waktu dengan bobot 0,231 dan kriteria partisispasi masyarakat dengan bobot 0,142 serta kriteria administrasi dengan bobot 0,112 dengan bobot-bobot dari sub kriteria yang ada. Setelah itu diketahui juga bobot alternatif antara kontraktual dan pemberdayaan masyarakat. Kemudian diketahui bobot kontraktual adalah 0,649 dan bobot pemberdayaan masyarakat adalah 0,351. Selanjutnya dilakukan perhitungan bobot alternatif antara kontraktual dan pemberdayaan masyarakat dari tiap-tiap kriteria yang dipertimbangkan. Dengan hasil analisis bahwa yang memilih pelaksanaan proyek konstruksi secara kontraktual ada 3 kriteria yaitu kriteria biaya, kriteria mutu, dan kriteria administrasi. Sedangkan yang memilih pelaksanaan proyek konstruksi secara pemberdayaan masyarakat ada 2 kriteria yaitu kriteria waktu dan kriteria partisipasi masyarakat. 
Validasi hasil analisis menunjukkan bahwa pelaksanaan proyek konstruksi lebih baik dilakukan dengan cara kontraktual. Walaupun antara kontraktual dan pemberdayaan masyarakat sama – sama melakukan kontrak, namun kontraktual lebih  adanya tanggung jawab yang jelas dan berbadan hukum.

Kata Kunci: kontraktual, pemberdayaan masyarakat, stakeholders,  Analytical Hierarchy
Process (AHP), validasi.